My Book Will Be Finished Soon

Prolog

Entahlah mungkin dunia memang sudah seperti ini sejak lama. Kita hidup dalam sebuah system kehidupan yang rapuh. System sosial yang terdiri dari beragam status social yang seolah-olah berfungsi untuk menata dan mengelompokan dengan adil posisi dan drajat seseorang dalam kehidupan sosial. Menariknya, posisi atau derajat diri kita bergantung pada hal-hal konyol yang dianggap sebagai sebuah nilai dalam hidup. Kekayaan, jabatan, kepopuleran, pencapaian, dan hal hal lainnya yang dianggap oleh orang hebat atau keren, pada akhirnya hal itu yang dianggap sebagai sebuah nilai dalam hidup dan dijadikan sebagai sebuah indicator dalam menentukan status hidup seseorang.

Contohnya, kehidupan masa sekolah yang terdiri dari beragam siswa di dalamnya. Hal itu kemudian secara alami membentuk sebuah kelompok kelompok dengan beberapa kategori yang memposisikan status social mereka. Kelompok popular akan selalu menjadi strata tertinggi dalam kelompok status social di sekolah. Mereka terdiri dari jenis manusia yang goodlooking, kaya, pintar, dan pemberani. Kelebihan yang didapatkan dalam kelompok ini adalah pandangan social dan hak dalam mendominasi kehidupan disekolah. Bahkan tidak jarang mengatur dan membully siswa lain yang masuk kedalam kelompok strata terendah. Sedangkan kelompok yang tidak popular yang terdiri dari kelompok orang-orang bodoh, miskin, ungoodlooking, dan penakut harus berbesar hati masuk kedalam strata terendah di sekolah. Tidak banyak yang mereka dapatkan selain hak dasar dari sekolah dan cenderung hanya mengikuti arus kelompok orang popular.

Ini gambaran realita sederhana dalam pengelompokan status social di sekolah meskipun memang tidak menjamin secara pasti. Seperti orang bodoh belum tentu masuk kedalam strata social terendah apabila ia juga masuk dalam kategori goodlooking. Ini mengibaratkan bahwa terlepas seberapa bodoh dirimu apabila kamu goodlooking kamu dimaafkan.

Proses alami pembentukan kelompok social yang begitu kompleks memang perlu menggunakan beragam kacamata untuk dapat memahaminya. Jika kita hanya melihatnya menggunakan satu kacamata hasilnya kita hanya akan terjebak pada penilaian sederhana dari luar diri kita. Kita hidup tidak lagi didasari oleh kemauan diri kita tapi atas tuntutan orang lain atau tuntutan sosial.

Dengan kata lain seberapa terhormat dan berharganya dirimu hal itu berdasarkan dari penilaian orang lain terhadap dirimu.

Coba pikirkan Kembali, adakah hal aneh yang terjadi pada dirimu?

Aku akan coba membuat pertanyaan sederhana.

Apa tujuan hidupmu? Dan apa yang ingin kamu lakukan?

Aku cukup yakin bahwa kamu tidak cukup yakin dengan tujuan hidupmu dan apa yang ingin kamu lakukan. Maksudnya kamu tidak benar benar mengetahui apa yang ingin kamu raih atau capai dalam hidup dan bagaimana cara kamu menjalaninya.

Mengapa?

Karena memang dari awal kita sudah dibiasakan hidup untuk kemauan orang lain atau tuntutan social bukan murni karna kemauan kita sendiri. Hasilnya kita tidak memiliki tujuan yang pasti. Seperti kita merasa jadi apapun terserah selagi kita tidak masuk kedalam kelompok strata social terendah.

Kita terlalu sederhana dalam menafsirkan sesuatu meskipun kadang memang bagus akan tetapi salah jika kita tempatkan penafsiran sederhana dalam kehidupan ini. Seperti kehidupan social menuntut untuk kaya agar drajat diri kita tinggi dan kita secara dangkal hanya berpikir menjadi kaya tanpa memahami dengan benar makna dari kaya dan bagaimana cara mewujudkannya. Seakan-akan kita yakin tanpa perlu memahaminya dengan baik suatu hari nanti kita tetap akan menjadi kaya dan drajat diri kita akan tinggi.

Oi ayolah jangan konyol, hidup tidak sesederhana dan sebaik itu. Bangun dan sadarlah wahai diri!

Sudah terlalu banyak informasi konyol yang mengakar menutup akalmu.

Komentar