Sebuah Proses Pendewasaan


            Semakin beranjaknya umur dan pengalaman hidup, nampaknya memang membuatku semakin berhati-hati dalam memilih atau menentukan sesuatu yang akan aku jalani. Aku masih mengingat ketika umurku masih berada pada angka belasan tahun. Rasa percaya diri, semangat, dan juga tekad dalam menunjukkan eksistensi kepada lingkungan pergaulan membuatku berpikir untuk memenangkan segala hal agar pandangan mereka tertuju padaku. Namun seiring dengan bertambahnya usiaku, waktu pun dengan tegas berkali-kali memberikan tamparan untukku dengan realitas hidup yang aku hadapi. Mencoba menunjukkan eksistensi tidak akan membuat diriku lebih bernilai dan bermakna. Aku hanya akan menjadi satu diantara milyaran manusia yang menjalani hidup hanya demi eksistensi lalu menghilang begitu saja dalam sejarah.

            Keinginan untuk dipandang, dihargai, dan dipuja merupakan sebuah kesalahan terbesar yang pernah terpikirkan dalam hidup. Rasa senang dan bangga atas pandangan teman terhadap diriku yang dianggap hebat dan mampu melakukan berbagai macam hal diluar kemampuan mereka pernah membuatku mabuk hingga sulit untuk menyadari bahwa aku sedang dimanfaatkan. Kebaikan dari sang waktu yang memberikan jawaban pada diriku dengan menunjukkan realitas kenyataan bahwa temanku pada dasarnya pun mampu melakukannya. Mereka hanya malas untuk melakukan hal tersebut.

            Nampaknya benar yang dikatakan oleh Thomas Hobbes, “Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya”. Individu akan selalu mementingkan kepentingannya memanfaatkan berbagai cara untuk memenuhi kepuasannya terlepas cara itu adalah dengan mengelabui orang lain. Ia telah menjelaskan ini jauh sebelum aku lahir yang artinya itu sudah lama terjadi dan memang begitulah kebanyakan hubungan antar sesama manusia hingga saat sekarang ini. Aku yang terlalu naif menilai semua orang yang memiliki kesulitan adalah murni karena mereka memang membutuhkan bantuan nyatanya mereka hanya malas untuk menghadapinya. Ditambah dengan kebodohanku atas kesenangan dan kebanggaan karena merasa telah menjadi seorang penolong bagi mereka.

Aku pernah benar-benar dikelabui oleh manusia.

            Pengalaman itu sangat memberikan pukulan kesadaran yang besar padaku. Aku telah sangat belajar atas pengalaman tersebut untuk tidak akan pernah lagi terbawa oleh hasrat keinginan untuk dipandang, dihargai, atau pun dipuja. Hal itu hanya akan membuat diriku nampak terlihat lebih bodoh dan rendah. Aku pun tidak akan pernah lagi termakan oleh segala macam bentuk pujian dan pujaan. Hal itu juga hanya akan membuatku berhenti berkembang dan sibuk menyelesaikan permasalahan orang yang seharusnya mereka sendiri bisa atasi.

            Perlahan-lahan setelah aku mencoba untuk membenahi hasrat dan keinginan yang ada pada diriku, sejalan dengan itu sikap dan prilaku ku pun nampaknya berubah. Aku tidak lagi penasaran dan sering ikut campur permasalahan orang lain untuk membantu. Aku pun tidak peduli terhadap gaya berpakaianku yang tidak jarang suka disindir teman karena itu-itu saja dan nampak buluk. Bagiku selagi pakaian itu masih layak pakai aku tidak merasa perlu untuk mencari yang baru jadi itu bukan hal yang penting. Yang penting bagiku pakaian itu harus bersih dan aku harus rajin mandi.

            Minat ku dalam berorganisasi pun juga berubah, dulu aku melihat organisasi merupakan sebuah tempat yang “wah” media belajar bagi orang-orang untuk mengembangkan kemampuannya. Namun kini, bagiku organisasi telah bergeser nilai dan maknanya. Aku melihat organisasi sekarang hanyalah tempat dimana orang-orang saling bertarung mempertontonkan kehebatan dan kepintaran, bahkan juga kekerenan hanya untuk memperebutkan kekuasaan dan saling menjatuhkan. Apa memang seperti itulah organisasi? Entahlah, agak miris bagiku untuk memikirkannya jika memang seperti itulah wajah sebenarnya dari organisasi. Oleh sebab itu minatku terhadap organisasi tidak lagi sama.

            Aku sangat bersyukur telah sampai pada titik kesadaran ini diakhir umur belasan tahunku. Entah akan jadi seperti apa diriku jika hingga saat sekarang ini diumur ku yang sudah beranjak 22 tahun belum bisa menyadarinya. Rasa tenang dan damai yang aku alami sekarang ini mungkin adalah salah satu bentuk dari hasil yang aku terima ketika hasrat untuk menunjukkan eksistensi itu telah aku tekan dalam diri. Cara berpikir dan sudut pandang dalam menanggapi dan merespon lingkungan tempatku hidup pun meluas seiring dengan pertumbuhan usia dan pengalaman hidupku. Hal ini benar-benar sangat membantuku dalam memilih dan menentukan sikap terhadap orang lain tanpa adanya motif untuk memanfaatkan. Dan hal ini jugalah yang membuatku mampu sedikit lebih aware terhadap kondisi emosi seseorang.

Sungguh aku bersyukur.

Nalar dan nuraniku tidak lagi terhalang oleh sebuah hasrat.

Membuatku mampu melihat sesuatu lebih jauh dan menyadari sesuatu yang tidak ku sadari sebelumnya.

Komentar